Translate

Senin, 20 April 2015

Dengarlah Kesah ku Tuhan...

Tuhan.... 
Pastilah Engkau sedang sibuk saat ini. Sedang memantau peperangan yang terjadi di belahan bumi lainnya ‘kah? Atau sedang mengamati dan menertawakan tingkah polah manusia? Ini aku Tuhan, salah satu dari miliaran ciptaan-Mu, namun mungkin nomor satu dalam hal keinginan berkeluh kesah. Maaf jika sampai sekarang aku termasuk golongan yang tak tahu diri. Hanya datang pada-Mu ketika aku sedang membutuhkan sesuatu.
Maaf jika selama ini aku sering mengabaikan-Mu hingga sering bermalas-malasan untuk pergi ke rumah-Mu. Namun dengan segala kerendahan hati, bersediakah Engkau mendengarkan segala keluh kesahku ini? 

Tuhan, andai aku selalu tahu kenapa perasaan cemas datang melandaku. Kadang ia hadir tanpa alasan, mungkin karena aku takut dan sering merasa sendirian.



Andai aku selalu tahu kenapa rasa takut kadang menyergapku. Namun aku belum tentu punya alasan untuk menjelaskan ketakutan itu. Perasaan itu hadir begitu saja, menunda bahagia. Aku tambah kalut jika tak tahu apa sebabnya.
Mungkin aku takut karena merasa kesepian. Tidak, bukan hanya karena saat ini aku sedang melajang. Lebih dari itu, aku benar-benar merasa kehilangan teman-teman. Di usiaku yang sekarang, sahabat memang datang dan pergi. Tapi jika ada di samping pun, aku tetap merasa asing dan sendiri.
Tolong, Tuhan, ingatkan aku bahwa sebenarnya Kau sahabat terbaikku. Aku tak pernah sendirian, karena kau mengerti aku dan selalu mendengarkan. Aku mohon, ingatkan aku untuk selalu dekat kepadaMu. Supaya aku selalu bersandar dan berbagi cerita dengan-Mu, sehingga aku tak perlu lagi merasa kesepian seperti ini.

Kalau harus jujur, aku pun sebenarnya sedikit cemas tentang pekerjaan. Bagaimana bisa aku berjuang di lautan manusia yang sama-sama butuh lowongan?


Pagi ini aku membuka mata kemudian merasa cemas luar biasa. Aku tidak tahu, apakah memang rasa ini sengaja Kau kirimkan padaku supaya aku kembali mengingat-Mu? Yang jelas aku mulai mengkhawatirkan nasib pekerjaanku. Di usiaku ini memang aku sedang kelimpungan mencari pekerjaan yang pas untukku. Bagaimana bisa aku berjuang di lautan manusia yang sama-sama membutuhkan lowongan? Aku sering meragukan kemampuan bahkan merasa rendah diri dibuatnya.
Mataku terbuka bahwa inilah hidup yang sebenarnya. Bahwa dunia ini seperti hutan belantara dan aku harus mampu berjuang hingga titik darah penghabisan supaya bisa bertahan. Tuhan, bersediakah kau cukupkan keberanian yang ada di dalam diriku? Supaya aku bisa dengan maksimal memanfaatkan talenta yang Kau berikan padaku. Aku percaya, Engkau membekali setiap manusia dengan kemampuannya masing-masing.
Dan, aku juga percaya bahwa bagaimanapun caranya aku pasti bisa menemukan jalanku di antara labirin pekerjaan. Bahwa suatu saat nanti aku pasti menemukan pekerjaan yang sesuai dengan renjanaku. Hingga saatnya tiba nanti kuatkanlah hatiku, semoga aku tidak gampang berputus asa digilas kekejaman dunia pekerjaan.

Aku pun selalu ingin tahu siapa yang kelak akan mendampingiku. Tak sabar rasanya menguak rencana sang sutradara alam semesta



Tuhan, sebenarnya bukan hanya pekerjaan saja yang kurisaukan. Dalam diam aku memendam kecemasan pada siapa yang kelak akan mendampingi hidupku. Siapa yang nanti akan menautkan jemarinya di sela-sela jariku dan menjajari langkahku? Memiliki banyak sikap baikkah dia? Dan cukup mengertikah dia akan diriku? Ah, ya aku selalu percaya bahwa Engkau pasti akan memberikan yang terbaik bagiku. Engkau juga pasti akan menjodohkan aku dengan manusia berhati baik yang sanggup mengerti aku apa adanya.
Aku tahu Tuhan, Engkaulah sutradara terhebat yang ada di jagat raya ini. Aku paham, Engkau sudah menuliskan cerita indah dan aku hanya harus menjalaninya saja. Semoga Engkau selalu bersedia mengingatkanku bahwa hidup ini adalah perjalanan, bukan pertandingan. Menikah juga bukan merupakan pencapaian. Sehingga aku tidak harus merisaukan mengenai pasangan hidup ketika sudah banyak dari teman sejawatku yang mengikat janji suci di pelaminan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar